Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2014

Kisah banduan kabur dari sel selamatkan keluarga dari Taufan Haiyan

26 Nov 2013

Sebanyak 600 Napi yang melarikan diri kini telah kembali ke sel usai selamatkan keluarga dari terjangan Topan Haiyan. 
©AFP PHOTO / Nicolas ASFOURI
Seorang banduan(Napi) yang telah kembali ke penjara di Leyte, Filipina. Seramai 600 tahanan melarikan diri untuk menyelamatkan keluarganya ketika Taufan Haiyan menerjang Filipina pada 8 November lalu.
  • Suasana saat para napi tengah beraktivitas di penjara di Leyte, Filipina. Sekitar 250 tahanan yang melarikan diri kini mulai kembali setelah membantu keluarga dan kerabat yang terkena bencana Topan Haiyan.
  • Seorang napi tengah memasak saat beraktivitas di sebuah penjara di Leyte, Filipina. Sebelumnya, mereka bertinjauan kabur setelah badai itu merobohkan atap dan menghancurkan beberapa bagian penjara para Napi.
  • Seorang napi tengah merokok saat menghabiskan waktu di sebuah penjara di Leyte, Filipina. Sebagian besar napi melarikan diri di saat penjara dengan keamanan super ketat tersebut tengah kebanjiran.
  • Salah satu napi yang kabur tersebut rela kembali ke penjara karena dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ampunan.
Selengkapnya

Rabu, 29 Januari 2014

Sejuta Kisah Menarik Di Kelenteng Kwan Sing Bio

Kelenteng itu tampak unik dan menarik. Pada bagian atas gerbang masuknya terdapat ornamen berbentuk kepiting raksasa yang menjadikannya sebagai satu-satunya kelenteng yang menggunakan satwa kepiting sebagai ornamennya. Ada sejuta keindahan lainnya yang menarik perhatian saya untuk mengunjungi kelenteng yang bernama  Kwan Sing Bio  itu.

Kelenteng Kwan Sing Bio didominasi warna merah, kuning dan hijau yang terang pada bangunannya dengan banyak hiasan berbentuk Naga,lampion dan lilin berbagai ukuran. Dan tentu saja bau Dupa dan Hio yang senantiasa menguar dari dalam kelenteng.

 Kelenteng Kwan Sing Bio berada di Jalan Raya R.E. Martadinata , Tuban – Jawa Timur. Cukup mudah menuju ke kelenteng ini karena lokasinya yang berada di tepi jalan raya utama jalur Pantai Utara Jawa dengan banyak angkutan umum yang melintasinya.

Kelenteng Kwan Sing Bio menganut ajaran Tri Dharma yaitu Budha, Tao dan Konghucu dengan pemujaan pada dewa utamanya yaitu Dewa Kwan Kong. Selaras dengan arti nama Kwan Sing Bio yang berarti kelenteng untuk memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong.

Sebelum memasuki kelenteng Kwan Sing Bio, sebuah gerbang dengan bentuk khasnya dan ada replika hewan Kepiting akan menyambut pengunjung kelenteng. Di Indonesia, hiasan kepiting itu konon cuma ada di kelenteng ini.

Hiasan kepiting yang seolah menjadi Ikon Kelenteng Kwan Sing Bio itu ternyata berkaitan dengan sejarah awal kelenteng yang diperkirakan dibangun pada abad 18 ini. Karena dulunya , lokasi dibangunnya kelenteng ini adalah daerah tambak dengan banyak hewan kepiting hidup dan berkembang biak di sekitarnya.

Tak hanya itu, hewan kepiting itu ternyata juga bermakna simbolis karena dipercaya dapat memberi perlindungan pada kelenteng dan umatnya dari pengaruh unsur-unsur jahat sekaligus mengusirnya. Makna-makna simbolis tentang nilai-nilai kehidupan itu juga terdapat pada banyaknya hiasan satwa pada beberapa bagian bangunan kelenteng baik yang berupa relief, patung, lukisan dan sebagainya.
Sekitar 5 meter tepat di belakang gerbang, bangunan utama kelenteng Kwan Sing Bio berdiri dengan anggunnya. Di bagian depan kelenteng dan di dalam bangunan utama pada sebelah kanan dan kiri pintu masuk terdapat sepasang patung singa dengan posisi duduk . Patung singa ini juga bermakna simbolis sebagai kekuatan dan penjaga kelenteng.

Di bagian atas pintu masuk kelenteng terdapat lukisan kelelawar. Satwa pemakan buah-buahan ini bermakna membawa keuntungan, kebahagiaan dan panjang umur. Sedangkan di bagian atap kelenteng di bagian depan terdapat hiasan sepasang naga ( Lung ) dengan bola apinya. Hewan pada mitologi Tionghoa  ini dipercaya melambangkan kesuksesan, kekuatan dan kemakmuran.
Bangunan utama Kelenteng Kwan Sing Bio terbagi menjadi 3 bagian Ruangan dengan banyak petugas kelenteng yang hilir mudik membantu keperluan umat kelenteng. Ruangan yang pertama di bagian depan untuk membakar dupa dan hio dengan terdapat banyak lilin berbagai ukuran .
Di ruangan ini sambil membakar dupa atau hio, umat kelenteng bersembahyang dengan menghadap utara, ke arah laut. Sedangkan di ruangan yang kedua yang berada di bagian tengah digunakan untuk melakukan sembahyang dan juga menaruh beraneka Buah persembahannya.

Untuk ruangan ketiga yang terdapat di bagian belakang inilah terdapat Arca Dewa Kwan Kong dan arca dewa-dewa lainnya yang Dikeramatkan. Umat dan pengunjung kelenteng dilarang keras untuk memotret ruangan ini dengan segala isinya.
Di depan arca Dewa Kwan Kong inilah biasanya umat atau pengnjung kelenteng melakukan ritual jiam sie untuk berbagai keperluan seperti kelancaran usaha, kesehatan dan pengobatan atau sekedar untuk menerawang peruntungan dan nasib pada karir, jodoh dan sebagainya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :
  
OLeh-oleh Khas Tuban 

Swastika Ala Nazi Di Kelenteng Kwan Sing Bio 
Nuansa Seram Dalam Ritual Sumpah Pocong
Mengenang Gus Dur Di Kelenteng Boen Bio
Menikmati Surabaya Dengan Surabaya Heritage Track 

Legenda Kwan Kong Di Kelenteng Kwan Sing Bio


Suharto, Hercules Bergigi Baja Dari Tuban  
Masjid Aschabul Kahfie Di Dalam Gua Yang Unik 
Eksotisme Tradisi dan Budaya Dalam Pengantin Betawi
Megahnya Istana Kaisar Di Kelenteng Kwan Sing Bio
Nostalgia Masa Kecil Di Museum Anak Kolong Tangga

Ovi, Gadis Hulk Yang Perkasa Dari Tuban 
Menguji Nyali Di Tebing Watu Ondo
Mengenang Fenomena Aneh Gadis Kristal Di Tuban
Camilan Ampo Yang Terbuat Dari Tanah 
Ongkek Yang Langka Di Museum Kambang Putih Tuban 

Dinding Jebol Jejak Pelarian Pangeran Diponegoro
Foto Rongten Korban Santet Di Surabaya
Mobil Rolls Royce Kuno Milik Dinasti Sampoerna
Koleksi Tengkorak Manusia Di Museum Santet
Sumur Gemuling Yang Keramat Di Makam Sunan Bejagung

Misteri Jutaan Ikan Keramat Di Gua Ngerong 
Jejak Budaya Kerajaan Majapahit Di Candi Jabung
Aksi Premanisme Di Air Terjun Madakaripura 
Ondel-ondel Betawi Yang Unik dan Artistik
Oleh-oleh Dendeng Tokek Dari Probolinggo

Ancaman Maut Di Anak Gunung Kelud 
Jejak Vandalisme Makam Belanda Di Surabaya
Spa Alami Di Wisata Gunung Kelud 
Penampakan Hantu Di Petilasan Gembul
Kelenteng Boo Hway Bio Yang Indah Di Mojoagung

Misteri Gedung Singa Di Kota Surabaya
Nuansa Menegangkan Di Terowongan Gunung Kelud
Tauwa, Kuliner Peranakan Tionghoa Di Nusantara
Sayembara Unik Mengangkat Mesin Ketik Kuno
Sejuta Kekaguman Di Wisata Gunung Kelud

Mobil Mercedes Benz Kuno Peninggalan Bung Karno 
Relief yang Erotis Di Candi Penataran
Nostalgia Bung Karno Dengan Tokoh-tokoh Dunia
Gereja Batu Yang Unik Di Puhsarang Kediri
Patung Budha Sedang Tidur Di Mojokerto

Nostalgia Bung Karno dengan Tokoh Populer Dunia
Relief yang Erotis Di Candi Penataran
Kelenteng Hok Liong Kiong Yang Indah Di Jombang
Patung Makco Thian Shang Sen Mu Di Kediri 
Masjid Cheng Ho Yang Indah Unik Di Surabaya 

Jejak Bioskop Peninggalan Dinasti Sampoerna
Nuansa Misteri Di Mercusuar Sembilangan Madura
Patung Dewi Kwan Im Di Pantai Surabaya
Jejak Kerajaan Majapahit Di Candi Brahu
Jejak Makam Belanda Di Kota Surabaya

Sisi Lain Monumen Tugu Pahlawan Surabaya 
Ragam Kapal dan Perahu Tradisional di Lamongan 
Sosok Dokter Perintis Museum SANTET  
Meriahnya Parade Senja Di Grahadi Surabaya 
Pura Mandara Giri Semeru Yang Megah Di Lumajang

Relief Kucing Di Kelenteng Tjoe Ling Kiong - Tuban
Kota TEXAS Di Lamongan 
Museum Yang Menyimpan Benda-Benda Santet 
Harimau dan Singa Liar Di Lamongan
Benda-benda Bernuansa Mistis dan Magis di Museum
Bisnis Tokek Yang Menggiurkan Ala Probolinggo

Kuda Unik Yang Bermahkota dan Bersayap
Jejak Sekolah Presiden Soekarno Di Surabaya
Monumen Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk Di Lamongan
Kisah Ali Baba Di Istana Boneka
Lukisan Ala Komik Di Kelenteng Bojonegoro 


Gadis di Tuban  Penarik Truck Dengan Menggunakan Rambut dan Gigi
Kerangka Gajah Purba Di Lamongan
Wisata Religi Di Makam Sunan Giri
Nasi Krawu Yang Nikmat dan Khas Gresik
Kue Pudak yang Nikmat dan Khas Gresik

Gedung Setan Yang Terkenal Di Surabaya
Mengenang Marching Band Sampoerna Yang Fenomenal
Indahnya Panorama Senja Di Pantai Kartini 
Pasar Tradisional Di Ranuyoso Yang Eksotis
Kelenteng Sumber  Naga Di Kota Probolinggo  

Nenek Penghuni Hutan Pinus Di Banyuwangi 
Bunker Peninggalan Belanda Di Surabaya
Wisata Guci Alit Yang Indah Di Lumajang 
Pura Luhur Poten Di Lautan Pasir Gunung Bromo

Gunung Bromo Yang Indah Dan Mengesankan
Lokomotif Kuno Di Museum Probolinggo
Legenda Tank Amfibi Peninggalan Belanda Di Ranu Grati 
 
Indahnya Masjid Agung Tuban di Malam Hari 
Kejurnas Off Road 4x4 Real Adventure di Tuban
Reog Malam Bulan Purnama Di Tuban 
Indahnya Pantai Panyuran - Tuban 
Pameran Foto Bol Brutu di House Of Sampoerna 

Kelenteng Hong Tiek Hian - Surabaya
Makam Siti Fatimah Binti Maimun Yang Unik 
Harimau di kelenteng Kwan Sing Bio 

Wanita Mini 75 cm dari Tuban 
Nuansa Nostalgia Di Pantai Tasikharjo Tuban 
Tradisi Bubur Suruh Di Makam Sunan Bonang
Buah Kenitu Yang Nikmat Dan Segar 
Kesenian Jaran Bodag Yang Eksotis dari Probolinggo

Bertemu Bajak Laut Di Lamongan
Indahnya Pasar Bunga Kayun Di Surabaya
Wisat` Laut Tuban Yang Mengecewakan
Makam Panjang 9 Meter di Gresik
Arca-arca Kuno Di Pemandian Banyu Biru  
Relief Erotis Di Situs Gua Pasir 

Rumah Kucing Di Lamongan 
Pesona Kuda Jingkrak di Tuban
Rumah Sakit Hantu Di Lamongan 
Foto Gus Dur di Kelenteng Boen Bio 
Gulai Kacang Hijau Yang Unik Ala Surabaya

Nuansa Horor Di Museum Kesehatan
Sumber Air Tawar Di Pantai Boom Tuban 
Ikon Ala Nazi di Kelenteng Kwan Sing Bio
Situs Bangunan Kuno Di Kayangan Api 
Rumah Gajah Mungkur Yang Indah Dan Unik
Museum Anak Kolong Tangga
Jangkar Bermata Empat Di Museum Kambang Putih
Pesona Keindahan Candi Prambanan
Parade Foto-foto Indah Karya Brutuis

Pondok Pesantren Dalam Gua Yang Fenomenal
Minuman Legen Yang Nikmat dan Segar
Jejak Majapahit di Candi Jabung  
Uang Lama Dan Kuno Keluaran Probolinggo
Kesenian Singo Ulung Yang Eksotis Dari Bondowoso


 Tips Mencari  Dan Mendapatkan Pemasang Iklan Di Blog

 Tips Mencari dan Mendapatkan Pemasang Iklan Di Blog #2

Tips Mencari dan Mendapatkan Pemasang Iklan Di Blog #3 

Mengenal Karakter Pemasang Iklan Di Blog  
================================================================


Kompleks kelenteng Kwan Sing Bio memiliki luas areal sekitar 4-5 hektar dengan berbagai bangunan dan fungsi, yang menjadikan kelenteng ini dikenal sebagai kelenteng yang paling besar dan luas di Indonesia. Di bagian barat kelenteng terdapat ruangan untuk pembaca jiam sie, kantor, berlatih barongsai dan liang-liong,dan stand souvenir.
Sedangkan di bagian timur terdapat ruangan dengan altar untuk persembahyangan dan di dalamnya terdapat pajangan seekor harimau yang telah diawetkan. Ada juga panggung mini untuk pementasan kesenian wayang potehi.
Di belakang bangunan utama kelenteng terdapat taman yang disebut Taman Dua Naga karena disana terdapat patung sepasang naga.
Yang menarik, di belakang taman itu terdapat bangunan Sembilan Gada Suci untuk menyimpan bendera dan panji-panji, barongsai, dan liang-liong khusus untuk persembahyangan dan pemujaan Dewa Kwan Kong.
Di dalam ruangan yang berkaca ini juga terdapat patung Dewa Kwan Kong yang berukuran cukup besar. Sementara di bagian luarnya pada sebelah kanan-kiri dan depan terdapat patung-patung para tokoh pembesar dalam sejarah dan legenda Tiongkok . Patung-patung itu ditampilkan dengan penggarapan pada ekspresi, detail dan warna yang cukup bagus dan menarik.
 Di belakang bangunan Sembilan Gada Suci terdapat ruangan semacam aula yang cukup luas dengan relief-relief berisi kisah legenda China yang berukuran cukup besar pada dinding di bagian barat dan timur.Salah satu relief itu berkisah tentang Legenda Delapan Dewa ( Pat Sien )
Melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini di bagian belakangnya terdapat halaman yang sangat luas. Di halaman inilah terdapat bangunan yang cukup megah laksana istana kaisar China lengkap dengan gerbang, taman , kolam dan jembatan penghubung . Bangunan yang cukup menarik dan artistik ini digunakan sebagai panggung terbuka untuk pentas kesenian ala China.
 


Banyak pengunjung yang masuk ke bangunan ini untuk menikmati keindahannya sambil tak lupa berfoto ria. Di sebelah barat terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat makan dan dapur umum. Siapapun dan kapan pun boleh makan disana secara gratis dengan jenis makanan yang disediakan oleh pihak kelenteng.
Di belakang bangunan panggung kesenian ini terdapat bangunan bertingkat yang besar dan megah dengan hiasan kepiting di bagian atasnya . Seolah belum lengkap, di kompleks kelenteng ini juga menyusul akan dibangun Pagoda Sembilan Lantai yang sangat megah.
Selain Relief dan patung naga dan singa ,pada beberapa bagian bangunan di kelenteng juga terdapat relief  dan Ornament bergambar burung phoenix ( Feng ), kuda bertanduk atau Unicorn ( Kili ), kuda ( Ma), rusa, bangau dan harimau dan satwa lainnya dengan arti filosofisnya masing-masing.
 
Kelenteng Kwan Sing Bio sering digunakan sebagai tempat untuk ritual Ciswak atau Fung Shen .  Keduanya adalah ritual untuk membuang sial bagi orang yang sedang bermasalah pada kehidupannya atau yang merasa shio-nya jiong ( bertentangan) dengan tahun baru Imlek 2563 yang bershio naga air.
Kedua ritual itu dilakukan dengan membeli seekor atau beberapa ekor Penyu atau kura-kura dan menuliskan doa-doa dan nama yang bersangkutan pada tempurung (karapas) penyu atau kura-kura dalam huruf Cina. Bisa juga dengan melepaskan Burung-burung kecil. 
Ritual dilakukan di halaman kelenteng oleh petugas pembaca Jiam sie.
 Setelah dibacakan doa oleh pembaca jiam sie, Penyu, kura-kura dan burung-burung itu kemudian dilepaskan terbang ke alam bebas.
Lepasnya penyu, kura-kura atau burung itu ke alam bebas diharapkan lepas pula permasalahan dan kesulitan yang dialami oleh yang bersangkutan.
 
Sebuah ritual dan tradisi etnis Tionghoa  yang menjadi  pesona dan daya tarik Kelenteng Kwan Sing Bio sebagai tempat ibadat dan destinasi wisata di kota Tuban.
Selengkapnya

Jumat, 27 Desember 2013

Kisah Ali Baba Di Istana Boneka


Berada di kawasan Wisata bahari Lamongan, tampak sebuah bangunan yang  cukup besar dan mencolok. Bangunan itu berwarna kuning emas dan berkubah . Dari kejauhan tampak seperti  bangunan masjid.

Ternyata bangunan itu bukanlah masjid. Tetapi merupakan bangunan untuk Wahana Istana Boneka, salah satu wahana  yang ada di Wisata Bahari Lamongan. Wahana Istana Boneka ini disediakan cara gratis bagi pengunjung.

Setelah memasuki gerbang Istana Boneka, di halam luarnya terdapat ornament ala Negeri 1001 Malam seperti deretan guci dan sebaginya. Pada tamannya terdapat pohon  palem dan kurma.

Setelah memasuki ruangan di dalamnya, tampak dua buah kereta  kuda yang berkapasitas sekitar 6-7 orang. Kereta kuda itulah yang akan membawa dan mengantar pengunjung menikmati parade dan pentas boneka .

Karena kereta kuda yang tersedia cuma ada dua, jika banyak pengunjung yang ingin menikmati sajian pentas boneka itu harus sabar antre dan menunggu giliran.


 
Setelah kereta kuda mulai berjalan secara perlahan dan memasuki gerbang dengan dua boneka penjaganya, ternyata Istana Boneka ini menampilkan kisah tentang Ali Baba.
=======================================================================
Break Session :

Baca juga artikel-artikel menarik lainnya di Blog ini dengan Langsung KLIK Link di bawah ini atau kata-kata berwarna Biru lainnya :

Menambang Uang Melalui Facebook dan Blog
Cara Mudah Membuat Toko Online
Tips Jitu Untuk Meningkatkan Traffic Situs atau Blog  


OLeh-oleh Khas Tuban 

Hantu Yang Aneh di Lamongan 
Relief 3 Dimensi di Kelenteng Tuban 
Api Yang Tak Bisa Padam Di Bojonegoro
Lukisan Ala Komik Di Kelenteng Bojonegoro 

Purna Siswa dan Gelar Prestasi TK Integral Hidayatullah - Tuban
Play Group Hidayatullah - Tuban
Taman Kanak-Kanak Integral Hidayatullah - Tuban 


Gadis di Tuban  Penarik Truck Dengan Menggunakan Rambut dan Gigi

Kirab Piala Adipura Di Tuban
Parade Mobil Hias Di Tuban 
Pesawat Nomad TNI Angkatan Laut  Di Lamongan 
 
Batu-batu  dan Relung Unik di Gua Akbar 
Legenda Batu Gajah di Tanah Tuban 
Sumber Air Tawar Di Pantai Boom Tuban
Atraksi Kekuatan Ala Samson Di Tuban 

Nenek Penghuni Hutan Pinus Di Banyuwangi

Indahnya Masjid Agung Tuban di Malam Hari 
Kejurnas Off Road 4x4 Real Adventure di Tuban
Reog Malam Bulan Purnama Di Tuban

Novi Wulandari - Lamongan,  Peringkat 2  - NUN 2012

Mushola Unik Di Dalam Gua Akbar 
Pantai Sowan Yang Indah dan Alami
Rumah Serangga Di Lamongan
Meraup Kesegaran Alami Di Pemandian Bektiharjo
Iklan Pajak Keliru Ala Tuban 

Kelenteng Hong Tiek Hian - Surabaya
Harimau di kelenteng Kwan Sing Bio
Wanita Mini 75 cm dari Tuban 
Nuansa Nostalgia Di Pantai Tasikharjo Tuban 
 
Rumah Kucing Di Lamongan 
Pesona Kuda Jingkrak di Tuban
Rumah Sakit Hantu Di Lamongan 
Foto Gus Dur di Kelenteng Boen Bio 

Sumber Air Tawar Di Pantai Boom Tuban

Ikon Ala Nazi di Kelenteng Kwan Sing Bio

Camilan Ampo Yang Terbuat dari Tanah
Menguji Adrenalin di Watu Ondo
Rambu Ala Slankers Di Bojonegoro
Buah Kepel Sebagai Deodoran Alami

Nikmat dan Segarnya Es Dawet Siwalan
Indahnya Alun-alun Tuban di Malam Hari
Pesona Kesegaran Air Terjun Sri Getuk
Ribuan Ikan dan Kelelawar di Gua Ngerong
Gemerlap Istana Dalam Gua 
 
Museum Anak Kolong Tangga
Jangkar Bermata Empat Di Museum Kambang Putih
Pesona Keindahan Candi Prambanan
Pondok Pesantren Dalam Gua Yang Fenomenal
Minuman Legen Yang Nikmat dan Segar
Jejak Majapahit di Candi Jabung  
=================================================================
 
Kisah itu ditampilkan dalam banyak adegan  dengan boneka yang dilengkapi dengan berbagai kostum, aksesoris  dan properti  yang menarik.  Selain itu dilengkapi dengan permainan warna dan cahayanya yang atraktif.


Narasi dan musik  yang terdengar  dari audio  ketika kereta kuda melintasi panggung setiap adegan itu terasa menghidupkan dan menyemarakkan suasana  di dalam wahana Istana Boneka. Kekaguman pengunjung  pada pentas dan parade boneka itu laksana berpadu dengan riuh rendahnya narasi  dan musik yang ada.

Sayang , lintasan yang dilalui oleh kereta kuda terasa begitu pendek. Banyak dan rapatnya adegan yang ditampilkan di kanan dan kiri lintasan membuat  pengunjung  bisa merasa kebingungan  dan kewalahan untuk  menyimak adegan demi adegan.

Dalam rentang waktu sekitar 8 menit, perjalanan dan petualangan dalam menikmati kisah Ali Baba itu pun usai sudah. Beragam ekspresi ditunjukkan oleh pengunjung ketika  kereta kuda  sudah sampai di  gerbang terakhir yang dijaga oleh sebuah boneka Teddy bear yang berukuran besar dan  berkostum ala  Negeri  1001 malam.

Karena begitu banyaknya pengunjung yang tertarik dan berminat dengan atraksi di Istana Boneka ini, setiap pengunjung hanya berkesempatan menikmatinya sekali saja.
  
Mengingat begitu singkatnya waktu dan perjalanan ketika menikmati pentas Boneka itu, rasanya  Istana Boneka ini memberi sensasi  tersendiri untuk  datang  dan menyimak lagi kisah  Boneka Ali Baba  di Wisata Bahari Lamongan.

Baca juga dan Klik artikel menarik berikut ini  :

Pengusaha Yang Menggelandang Tanpa Uang

Jenazah Utuh Dimakamkan 35 Tahun Di Tuban

Gaun Pengantin Terbuat dari 9999 Kuntum Mawar 

Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca 

di Link berikut ini :

www.blogger.comblogspot.com




Selengkapnya

Selasa, 10 Desember 2013

Sarengat Kisah Si Manusia Tercepat Asia

28 Agustus 1962, di Stadion Utama Senayan, Jakarta, seorang pemuda jangkung berdiri di garis start lomba lari 100 meter. Sebelum pertandingan dimulai, ia sempat berdoa.
Begitu pertandingan dimulai, ia berlari sangat kencang. Hingga menjadi atlet pertama yang mencapai garis finish di perlombaan itu. Gemuruh tepuk-tangan menyambut kemenangan pemuda itu. Pemuda itu bernama Mohamad Sarengat.

Sarengat, Manusia tercepat Asia
Sarengat - Blog Eotika

Itulah pesta olahraga Asian Games ke-IV tahun 1962 di Jakarta. Dalam ajang olahraga terbesar di Asia itu, 17 negara ikut serta dan 14 cabang olahraga dilombakan. Indonesia sendiri menerjunkan atlet-atlet terbaiknya demi cita-cita mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di panggung dunia.

Dalam kejuaraan itu, Sarengat mempersembahkan 2 medali untuk tim merah-putih: nomor lari 100 meter dan lari gawang 110 meter. Di nomor lari 100 meter, Sarengat mencatat waktu 10.2 detik. Sejak itu dia mendapat gelar “manusia tercepat di Asia”.
Selain di atletik, Indonesia juga berjaya di cabang olahraga lain. Bulu tangkis menyumbangkan lima emas untuk Indonesia. Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Tutang, Unang, dan Liem Tjeng Kiang mendapat emas beregu putra. Minarni, Retno Kustiah, Corry Kawilarang, Happy Herowaty, serta Goei Kiok Nio berjaya di beregu putri. Tiga emas lainnya didulang dari tunggal putra (Tan Joe Hok), tunggal putri (Minarni), dan ganda putri (Minarni/Retno Kustiah).
Di cabang balap sepeda, Hendry Brocks dan kawan-kawan juga menyabet banyak medali emas. Loncat indah tidak mau ketinggalan dengan satu emas (papan 3 meter putri) berkat perjuangan tak kenal menyerah Lanny Gumulya.

Keberhasilan Sarengat dan kawan-kawan saat itu sangat membanggakan. Indonesia menempati urutan kedua dalam perolehan medali di bawah Jepang. Inilah prestasi tertinggi Indonesia dalam sejarah keikutsertaaannya dalam ajang tersebut.
Berita kemenangan Sarengat dan kawan-kawan disiarkan melalui koran, RRI, dan TVRI. Sarengat digambarkan sebagai contoh manusia Indonesia hasil Revolusi di bidang olahraga.
Bung Karno memang menyebut olahraga sebagai salah satu aspek dari Revolusi Indonesia. Ini adalah bagian dari proses nation and character building. Selain sebagai alat membangun mental dan rohani manusia, olahraga juga menjadi sarana membangun karakter bangsa.

Di hadapan para atlet Indonesia, di Sasana Gembira, Bandung, 9 April 1961, Bung Karno berpesan: “Engkau adalah olahragawan. Itulah kau punya wilayah, tetapi dedication of life-mu harus untuk Indonesia. Nah, inilah pesan yang aku berikan pada saat sekarang ini, dengan harapan agar kita nanti, bukan saja di dalam pertandingan-pertandingan Asian Games, tetapi seterusnya kita ini membangun suatu nation Indonesia, nation building Indonesia, yang membuat bangsa Indonesia bangsa yang mulia, bangsa yang tegak berdiri, bangsa yang bahagia.”

Sarengat lahir di Banyumas, Jawa Tengah, tanggal 28 Oktober 1940. Dia adalah anak tertua dari 10 bersaudara. Orang tuanya adalah seorang guru dan sekaligus pemain tenis. Awalnya, bersama Ayahnya, Sarengat bermain tenis dengan bola bekas dan raket seadanya.

Di masa SD hingga SMA, karena terobsesi dengan pamannya yang penjaga gawang PSSI, Mursanyoto, Sarengat kemudian menjadi penjadi penjaga gawang di kesebelasan sekolahnya. Ia kemudian bergabung dengan klub Indonesia Muda (IM) Surabaya. Sayang, ia selalu ditempatkan di bangku cadangan. Akhirnya, ia beralih ke cabang olahraga atletik.

Hingga suatu kali, Sarengat menjuarai lomba lari tingkat SMA di Surabaya. Sejak itu ia dilirik oleh Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) dan diboyong ke Jakarta. Sibuk di olahraga, pendidikan Sarengat agak terganggu. Ia harus mengulang tiga kali untuk bisa lulus di SMA.

Sarengat sempat bertemu Bung Karno. Saat itu Bung Karno berpesan, “Sarengat, rakyat telah melimpahkan kamu di Pelatnas selama setahun, mulai dari pakain kamu dan sepatumu, sekarang rakyat minta bukti.” Kata-kata itulah yang memicu semangat dan tekad Sarengat. Ia berlatih hampir setiap saat. “Latihan itulah yang memicu kecepatan dan kekuatan otot-otot saya,” katanya. Bung Karno sangat menghargai Sarengat. Sampai-sampai Bung Karno berkelar, “Stadion Utama Senayan dibuat untuk Sarengat.”
Selain menjadi olahragawan, Sarengat juga berhasil menuntaskan kuliahnya di Fakultas Kedokteran UI. Ia sempat menjadi Dokter Pribadi Wakil Presiden Adam Malik.

Di tahun 2009, ia tiba-tiba sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Sejak itu, ia keluar masuk rumah sakit. Saat ini Sarengat terbaring lemah karena serangan stroke. Jasa-jasa Sarengat bagi bangsa ini sangat besar. Ia telah menjadi pahlawan bangsa di bidangnya: olahraga.

Selengkapnya

Minggu, 17 November 2013

Kisah Hidup Jono Gugun Blues Shelter Masuk Islam

Jono Gugun Blues Shelter

Sejak mantap memutuskan diri menganut agama Islam tahun 2000 silam, bassist band Gugun Blues Shelter, Jonathan Amstrong atau akrab disapa Jono, masih terus berusaha memperdalam ilmu agamanya.

Ia lahir dari keluarga Kristen yang taat. Ayahnya adalah seorang pendeta. Meski begitu, sang ayah samasekali tidak menghalangi Jono untuk pindah keyakinan. Dan saat Vivalife bertandang ke rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur, Jono bercerita, ketertarikannya untuk memeluk Islam mulai timbul saat ia bertandang ke Aceh.

Pertama kali ke Indonesia, Jono memang langsung menginjakkan kakinya di Tanah Rencong, Aceh. Kisah seorang kawan muslim yang berkebangsaan Perancis yang bercerita soal keindahan alam Aceh, membuatnya tertarik berlabuh di daerah tersebut. Ini menjadi awal kisah Jono terpikat pada Islam.

"Waktu saya harus pulang ke Inggris, saya harus transit di salah satu negara di Asia. Nah saya pilih Indonesia. Kenapa saya pilih Indonesia, ini karena cerita dari teman saya," katanya.

"Dia cerita dan kasih lihat foto, ada tempat di Aceh, namanya Sabang. Di situ, kamu bisa sewa penginapan US$1 per malam. Waktu itu, saya masih berusia 19, dan saya lihat foto Aceh indah sekali, jadi saya bilang saya mau ke sana," ceritanya.

Waktu pertama kali mengunjungi Aceh, ia sempat tinggal selama tiga bulan di sana. Jono berkelana ke berbagai daerah di Aceh, terutama Sabang. Di sana, ia terpana melihat kehidupan Umat Islam.

"Awalnya, saya berpikir soal Islam yang neatif-negatif saja, tapi saat saya menginjkkan kaki di Aceh, Islam terasa beda di sana," ujarnya.

Pria kelahiran Inggris ini, selama hidupnya memang tidak pernah mengenal pelajaran soal Islam. Ia hanya beranggapan, Islam identik dengan jihad, terorisme, bom bunuh diri, hingga poligami. Tapi, ketika berada di Aceh, hal negatif soal Islam yang ada di pikirannya seolah sirna.

"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, orang-orang Islam di Aceh itu 180 derajat jauh beda dengan yang ada di pikiran saya. Nggak ada itu yang namanya pukul-pukul istri dan lain-lain yang negatif. Orang Islam di sana ramah, kekeluargaannya masih kuat, nggak ada yang negatif-negatif," kisahnya.

Dari situ, Jono mulai tertarik belajar lebih dalam soal Islam. Jono, akhirnya juga tertarik bertanya pada teman muslimnya, seperti apa Islam yang sesungguhnya. "Teman saya bilang, Islam itu sebenarnya nggak jauh beda sama agama saya. Cuma ada tambahan-tambahan sedikit yang menuntun seseorang untuk kembali ke jalan Tuhan," ceritanya.

Jono pun merasa tak kesulitan mempelajari Islam lebih dalam. Setelah perjalanannya mengarungi Aceh usai, ia sempat pulang ke Australia dan kembali rindu pada Aceh. Akhirnya, ia kembali. Kedatangannya yang kedua di Tanah Rencong mempertemukannya pada wanita Aceh bernama Fauziah yang kini menjadi istrinya. Ketika itu, Jono memutuskan untuk menjadikan Fauziah sebagai kekasihnya. Fauziah juga berusaha membantu Jono belajar mengenal Islam lebih dekat. Sebagai kekasih, Fauziah lekas bertanya pada Jono, apakah ia, benar-benar tertarik memeluk agama Islam, Jono pun menyatakan yakin, ingin berpindah menjadi seorang muslim.

Karena yakin dengan keputusannya, ia lantas pulang ke negara asalnya, Inggris, meminta izin pada orangtuanya, untuk memeluk Islam. Ia merasa bersyukur, izinnya disambut baik sang ayah. Meski sempat sang ayah mempelajari dan mencari tahu soal Islam lebih jauh, tapi akhirnya, kata setuju terucap.

"Saya bilang sama bapak saya, saya mau masuk Islam. Terus dia bilang, bagus itu, nggak apa-apa. Karena bapak saya sudah belajar juga, dia punya Al Quran dalam bahasa Inggris, jadi dia tahu bagaimana Islam."

Kata Jono, orangtuanya sama sekali tak menentang. Mereka justru merasa bahagia, anaknya menemukan keyakinan yang sesuai dengan hati nuraninya. Apalagi, saat remaja Jono bukan anak yang baik. Hidupnya pernah kelam, suka main perempuan, minum-minuman beralkohol hingga menjadi pengguna narkotika.

"Waktu masuk Islam, prosesnya nggak lama. Waktu itu saya konsultasi sama Ketua MUI di Aceh namanya Yusni Sabi, saya konsultasi sama dia, dan kata dia, oke, dua hari lagi kita bikin acara kecil di Masjid Raya Aceh Baitturahman, dan saya di Islamkan di tempat itu," ceritanya.

Saat mengucap dua kalimat syahadat, ada beberapa orang yang menjadi saksinya, termasuk keluarga Fauziah. Dan tepat di bulan Oktober tahun 2000 akhirnya ia resmi menjadi seorang mualaf.

"Waktu itu saya belum menikah dengan Fauziah. Dan saya sempat pulang ke Inggris, kembali lagi ke Aceh, bulan Desember saya menikah," katanya.

Puasa adalah ajaran Islam paling sulit dijalaninya

Menjadi mualaf, tak lantas membuat Jono menjadi muslim yang taat. Ia masih terus belajar memperdalam keyakinannya pada Islam. Fauziah, katanya sebagai istri yang sabar menuntunnya belajar. Mulai dari salat, mengaji hingga memberi contoh yang baik termasuk saat menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Baginya, berpuasa mengajarkannya banyak hal. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan emosi dan amarah. Sulit bagi Jono menjalani kewajiban umat muslim satu ini. Bahkan, tak jarang, puasanya batal karena tak bisa menahan haus.

"Saya masih terus berusaha memperdalam keislaman saya. Sejauh ini, puasa saya juga masih banyak yang bolong, tapi bersyukur, istri saya selalu sabar menuntun," katanya.

Cobaan juga mampir padanya

Menjadi keluarga yang menganut ajaran Islam, cobaan juga sempat mampir padanya. "Waktu itu , kalau tidak salah pas saya punya anak kedua, Tobi, itu cobaan berat sekali. Keluarga Fauziah kena tsunami, dan saya waktu itu belum punya pekerjaan tetap. Keluarga Fauziah banyak yang hilang, dan akhirnya kami sempat pulang ke Inggris," kisahnya.

Setelah cobaan bertubi-tubi menghampirinya, tahun 2004, Jono mulai merasakan nikmat berkah sang Maha Kuasa. Di tahun itu, Jono diajak bergabung, masuk dalam grup band Gugun Blues Shelter hingga akhirnya nama band itu populer. Jono mulai full bekerja di musik, dan mulai mendapatkan tawaran job dari berbagai stasiun televisi.

"Waktu itu, saya ngisi acara Belajar Indonesia di Trans TV, jadi host dan tampil 8 episode. Setelah itu, tampil di Dahsyat dan jadwal manggung Gugun Blues Shelter makin padat. Pokoknya rezeki ada terus setelah cobaan itu, " katanya.

Tahun lalu, Jono juga mulai mengisi acara sahur di RCTI. Setelah kontraknya habis, ia ditawari untuk tampil di acara Canda Bule dan tahun ini, Jono kembali memeriahkan acara sahur di Waktunya Kita Sahur yang tayang di Trans TV.

"Selama saya masuk Islam, saya banyak dapat berkah. Rezeki mengalir, apalagi sekarang saya mengisi acara sahur, saya bisa menghibur banyak orang di bulan puasa."

"Meskipun saya bukan orang Indonesia, tapi mereka merasa senang bisa terhibur. Dan saya juga senang bisa menghibur mereka. Ini merupakan berkah buat saya," tegasnya.


sumber
Selengkapnya